ASI menyelamatkan anakku dari Pneumokokus PDF Print E-mail
Written by Murtiyarini   
Saturday, 23 January 2010 10:24
Article Index
ASI menyelamatkan anakku dari Pneumokokus
Sayapun Membuktikan keampuhan ASI
Hari ke 11
All Pages

Sedari hamil, saya sadar betul manfaat ASI yang luar biasa. Saya pun terus memperbanyak membaca artikel tentang ASI dari buku, majalah dan internet.

 

Saya kian paham pada teknik-teknik memperbanyak produksi ASI, juga bagaimana menyiasati pemberian ASI jika sang Ibu bekerja. Saya memang wanita bekerja dan berniat tetap mempertahankan karier saya. Saya berjanji dalam hati akan menjaga keseimbangan antara karier dan keluarga. Saya bertekat akan memberikan ASI ekslusif 6 bulan pada anak saya dan akan meneruskannya hingga 2 tahun.

 

Juli 2005 putri saya pun lahir. Saya menamainya Cinta. Berharap kelak dia akan menjadi orang yang mampu menebar cinta untuk sesama dan dicintai banyak orang.  Saya tidak menemui banyak hambatan dalam menyusui Cinta di bulan-bulan pertama karena saya masih cuti. Tapi menjelang putri saya berusia 3 bulan, saya harus merelakan pembantu rumah tangga berhenti bekerja. Alternatif lain pun saya ambil, saya mendaftarkan Cinta pada Tempat Penitipan Anak (Child Daycare).

Disini pemberian ASI mulai terasa berat. Saya memulai rutinitas yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Malam dan pagi sebelum kekantor Saya harus memerah ASI untuk dititipkan pada pengasuh Cinta di Daycare.  Semua ASI harus dalam wadah steril dan diberi label. Membawanya pun dalam termos es agar kualitas ASI tetap bagus dalam 24 jam.

Di kantor saya juga memerah ASI sebanyak 2 kali. Saya membawa ASI pulang dan di rumah saya pindahkan ke frezer, untuk cadangan. Memang agak membingungkan, tapi jika diberi label, saya tahu mana yang harus diberikan lebih dulu. Di Daycare saya berpesan pada pengasuh Cinta di Daycare agar tidak merebus ASI yang dingin atau beku karena dapat merusak antibodinya, cukup dengan merendam di air hangat.

Kadang kala rasa lelah dan stres datang karena urusan kantor dan urusan pekerjaan rumah yang banyak. Saya bersyukur suami mendukung dan mau membantu dalam urusan rumah tangga. Maklum, kami tidak lagi mempekerjakan pembantu rumah tangga. Tapi saya harus menjaga perasaan saya sendiri agar tidak terlalu stress karena dapat mengurangi produksi ASI. Saya mencoba berpikir positif dan menyakinkan diri bahwa semua hal dapat diselesaikan dengan baik.

Tak terasa waktu berlalu dan Cinta bertumbuh. Dia tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. Daya tahannya sangat bagus meskipun setiap hari dibawa naik turun kendaraan umum menuju Daycare. Meskipun sudah melewati masa ASI ekslusif 6 bulan, saya tetap menyusui Cinta. Saya sadar betul bahwa tubuhnya masih memerlukan Asi untuk menjaga dayatahannya. Apalagi bergaul dengan anak-anak kecil lain yang tidak jarang ada yang batuk, pilek atau gatal-gatal kulitnya. Bagaimana mungkin saya membatasi keinginannya bermain dengan teman-temannya? Bergaul dengan anak-anak kecil lain menjadikan Cinta pandai bersosialisasi.  Karena itu saya membekali dirinya dengan ASI yang saya tahu khasiatnya luar biasa.  Kadang-kadang Cinta tertular batuk pilek juga, tetapi tidak pernah parah.

 

Rupanya ASI tak hanya bagus untuk tubuh Cinta, tapi juga untuk jiwanya, dan juga jiwa saya. Kegiatan menyusui sangat kami nikmati berdua. Saat menyusui kami bertatapan mata, saling memegang , mengusap dan seringkali sambil bercanda melepas kerinduan. Berbagai posisi menyusu nyaman dilakukan Cinta. Dan dari ekspresinya saya yakin betul, menyusu adalah kegiatan yang paling disukainya. Begitu melihat saya, Cinta sudah langsung minta disusui. Sayapun dengan senang hati melakukannya.

 

Menyusui tak hanya penting disaat gembira, tapi juga menolong disaat genting dan darurat, terutama saat Cinta sakit. Biasanya ketika sakit anak tak mau makan dan minum, hanya mau menyusu. Bisa dipahami, anak yang sedang sakit biasanya merasa takut dan ingin selalu dekat ibunya. Disinilah peran ASI dan menyusui bertambah besar, yaitu untuk memberikan ketenangan.

 



Comments
Add New Search RSS
dr.ariani   |110.136.128.xxx |2010-03-02 10:28:47
Subhanallah,Bunda..
Mengharuan sekali. tak kuasa saya menaha air mata ketika
membacanya. Hope..ini jadi inspirasi u ibu yang lain.
Thank's a lot u
sharingnya.
Salam ASI
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Thursday, 02 September 2010 04:47 )
 
Membaca Update artikel kami via email, mau?
Alamat Email:

Konsultasi ASI Online